Bayangan Semar di Kaki Gunung Lawu – Dendam Itu Tuli (6)

“Guru..lihatlah,..guru bisa berbangga karena ternyata Arya kayana bisa mengalahkan saya. Guru pilih kasih.. Guru menurunkan ilmu lebih kepada Kayana”, Santana berteriak dengan sisa tenaga yang ada.

“Tidak ngger..aku tidak pilih kasih. Kalian berdua menerima ilmu yang sama dalam tingkatan tertinggi yang sama. Namun Kayana ternyata lebih tekun dalam melatih, mencari dan menyempurnakan sendiri intisari ilmu Sumber Banyu, ilmu Cakra banyu.. Sedangkan engkau sibuk dengan urusanmu di luar padepokan…”

“Itu karena guru tidak merestui saya dengan Candana Wuni… dan guru membiarkan Candana Wuni berhubungan dengan Arya Kayana”

“Ngger… aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Kalian tumbuh dewasa bertiga di tempat ini. Kalian sudah seperti adik kakak. Engkau kakak tertua tentunya harus lebih bijaksana. Aku belum merestui apa-apa”, Kiai Alas Jabungan berkata dengan nada bergetar antara menahan kesabaran, kemarahan, kecewa, sayang, dan kasihan.

Kidang Santana diam sejenak, menoleh ke arah Candana Wuni dan Arya Kayana kemudian dengan pelan dia berkata, “baik kalian menang… aku akan pergi”

“kakang…”, jerit Candana Wuni tertahan..

“Kidang santana…urungkan niatmu. Kita bicarakan lagi sebagai sebuah keluarga. Engkaulah yang aku persiapkan untuk memimpin padepokan ini kelak”, bujuk Kiai Alas Jabungan.

“Terimakasih guru…tapi saya akan tetap pergi dari sini”, jawab Kidang Santana pelan. Kali ini dengan mimik yang datar dan lebih tenang dari sebelumnya.

“Guru..saya mohon pamit”, lanjut Kidang Santana.

“Kakang…”, teriak Candana Wuni dan Arya Kayana hampir bersamaan.

“Diam kalian…”, teriak Kidang Santana sambil melenting tinggi. Sekejap tubuhnya sudah berada di pintu gerbang padepokan. Tanpa lagi menoleh kebelakang, Kidang Santana berjalan perlahan menyusuri jalan setapak kecil meninggalkan padepokan Sumber Banyu.

“Kakang !”, desah Candana Wuni lirih.

“Biarlah Wuni..biarkan dia pergi untuk menemukan jati dirinya. Semoga dia mendapat kesadaran setelah berada di luar padepokan ini. Sebenarnyalah dia adalah seorang pemuda yang baik hati dan benci pada kelalilam. Namun ternyata kekuatan cinta bisa juga melemahkan hatinya”, berkata Kiai Alas jabungan dengan pelan.

Mereka bertiga terus memandang Kidang Santana yang terus berjalan semakin jauh dari padepokan.

“Ini pelajaran berharga buat kalian berdua. Cinta dan kasih sayang yang tidak ditempatkan pada tempat yang seharusnya akan berakibat sangat fatal. Sejarah mencatat, banyak sekali pembunuhan yang terjadi hanya karena cinta. Bahkan, banyak juga kerajaan besar dijaman dahulu yang hancur dan tercerai berai hanya karena permasalahan seperti ini.”lanjut Kiai Alas Jabungan sambil mengelus jenggotnya yang terurai tertiup angin.

“Benarkah guru…?”, tanya Arya Kayana.

“Benar ngger..Kerajaan Singosari terus menerus dilanda kekacauan dan pertumpahan darah hanya karena pendirinya yaitu Ken Arok memperoleh kekuasaan dengan cara yang salah. Cintanya pada Ken Dedes yang merupakan Istri Tunggul Ametung telah membutakan hatinya.. Pembunuhan demi pembunuhan terjadi hanya karena dendam. Dendam yang diawali karena cinta yang tidak ditempatkan pada tempatnya..”,

“Tapi ingat ngger, cinta disini bukan hanya cinta kepada lain jenismu, tapi juga cinta dalam hal yang lebih luas. Cinta kepada kekuasaaan dan juga cinta terhadap harta kekayaan”, lanjut Kiai Alas Jabungan sambil terus menatap Kidang Santana yang makin jauh.

“Iya guru..”, jawab Arya kayana.

“Kerajaan Kediri runtuh akibat perebutan kekuasaan dari keturunan kerajaan Singosari. Mereka berperang antara saudara sendiri. Karena apa Kayana, karena cinta dan dendam karena kekuasaan.”

“Majapahit setelah masa Prabu Hayam Wuruk mengalami kemunduran yang luar biasa. Kau tahu kenapa Kayana.. hanya karena perebutan kekuasaan dari keturunan sang prabu. Sekali lagi cinta yang berlebihan pada kekuasaan dan harta telah menghancurkan sebuah negeri yang sangat besar. Negeri yang sangat kuat. Negeri yang katanya menguasai daerah yang sangat begitu luas yang disebut Nusantara. Negeri yang dibangun dengan cucuran keringan dan darah para pahlawan-pahlawan mereka…”

“Itulah kenapa agama dan kepercayaan kita mengajarkan kita untuk bersikap santun dan bijaksana dalam menyikapi perkara harta, kekuasaan, dan juga cinta. Jika kita gagal dalam menyikapinya, maka ketiga hal itu bisa menghancurkan kita. Membuat kita menderita baik di dunia maupun diakhirat kelak. Di dunia ini tidak ada orang yang lepas dari godaan tiga hal itu Ngger. Maka Kayana, Wuni kuatkan keyakinan kalian kepada Gusti Pangeran Gusti Allah, pelajari agama kalian dengan baik. Sehingga kalian kelak tidak akan terjerat dalam fitnah seperti ini.”

“Tapi eyang..Ap..”. Pertanyaan Candana Wuni terpotong karena tiba-tiba terdengar teriakan dari arah dimana Kidang Santana pergi.

“Ingat… aku akan datang kembali Wuni”. Suara Kidang Santana terdengar sangat jelas, menggelegar di udara. Rupanya teriakan itu dilambari dengan tenaga dalam.

Kiai Alas Jabungan mendesah pelan. Terlihat raut kesedihan di wajahnya. Wajahnya menunduk. Jenggotnya yang panjang melambai tertiup angin. Kedua tanggannya memgang tongkat yang dia jejakkan di tanah di depannya.

“Inilah contoh akibat jerat godaan itu. Semoga Kidang Santana mendapat petunjuk untuk bisa merenungi kembali apa yang terjadi padanya dan kembali ke jalan yang seharusnya.”, desah Kiai Alas Jabungan.

Arya Kayana dan Candana Wuni hanya terdiam.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s