Bayangan Semar di Kaki Gunung Lawu – Dendam Itu Tuli (5)

Lambat laun terasa bahwa ilmu yang dimiliki oleh Arya Kayana lebih matang daripada milik Kidang Santana. Ini menjadi dimaklumi karena beberapa tahun belakangan Kayana dengan tekun menempa terus ilmu yang dimilikinya. Sedangkan Santana sibuk bepergian keluar padepokan untuk menghilangkan perasaan cemburu dan amarahnya.

Maka akhirnya Santana meloncat mundur dan mengurai sabuknya. Maka sekejap ditangan Santana telah tergenggam sebuah ikat pinggang. Cukup lentur dan diujungnya terdapat sebuah timang berbentuk bulat. Ditengahnya terdapat sebuah symbol pusaran air.

“kakang… apa yang kakang lakukan?”, Arya kayana dan Candana Wuni berteriak hampir bersamaan.

“jangan kakang..”, jerit Candana Wuni. Gadis itu semakin bingung dan tak tahu lagi harus berbuat apa..

Arya Kayana menjadi tegak mematung memandang kakak seperguruannya yang seperti sudah kerasukan. Matanya merah memancarkan amarah.

Kidang Santana telah berdiri dengan sikap tertentu. Kayana mengerti betul itu adalah sikap jurus Pusaran banyu.

“kakang.. ini bukanlah kakang Santana. Sadarlah kakang”, teriak kayana tanpa mengurangi kewaspadaannya. Tanggannya telah menggenggam ujung ikat pinggangnya. Sebuah ikat pinggang yang sama dengan yang dimiliki oleh Santana.

Santana tidak menjawab bahkan kemudian dengan garang dia meloncat sambil mengayunkan ikat pinggangnya. Luar biasa, ikat pinggang tersebut berubah menjadi senjata yang mengagumkan kadang bisa lentur seperti pedang tipis, kadang kala kaku bagai golok, dan bahkan kadang sangat lentur bagai cambuk. Kayana yang sudah dalam sikap kewaspadaannya menekuk perutnya kebelakang dan ikat pinggang itu lewat beberapa jengkal di depannya. Terasa angin dingin menyeruak berbarengan dengan lewatnya ikan pinggang tersebut.

Belum lagi Kayana bersiap, Santana telah kembali menyerang. Kali ini ikat pinggangnya berubah menjadi lentur dan bergerak seperti sebuah campuk. Melayang dan kemudian meledak dengan sebuah sendalan di dekat tubuh Kayana yang melenting menghindar.

Kayana sadar bahwa kakak seperguruannya tidak main-main maka iapun harus bersikap sungguh-sungguh. Maka iapun berdiri tegap dengan ikat pinggang terjuntai di tangan kanannya. Dia bersiap dengan jurus Banyu karang untuk menahan jurus pusaran banyu.

Maka kedua orang gagah perkasa itupun saling berhadapan. Lalu kemudian, Santana telah melompat. Sabuknya berputar-putar seperti baling-baling. Sedang Kayana tidak mau kalah. Kedua tangannya bergerak dengan gerakan yang aneh sehingga sabuknya seperti membentuk sebuah pagar di depannya. Maka ketika kedua ikat pinggang tersebut bertemu maka terdengar dentangan keras disertai percikan api.

Halaman padepokan itupun semakin gelap akibat pasir yang berhamburan. Hawa menjadi semakin dingin akibat pengaruh tenaga dalam keduanya.

Candana Wuni yang kebingungan kemudian berlari. Dia memutuskan untuk menyusul Eyangnya yang sedang bersemedi di Sendang Ijo. Ia tahu sebenarnya pagi ini eyangnya sudah selesai tapi entah mengapa eyangnya belum datang juga…

Sementara perkelahian antara Santana dan kayana semakin seru. Tubuh mereka sudah hampir tidak kelihatan lagi. Mereka berdua benar-benar orang yang piling tanding. Hanya bayangan mereka yang kelihatan. Sesekali bunga api terpercik diantara pusaran angin dingin yang terjadi.

Mereka bener-bener berimbang ilmunya. Namun kemudian terlihat bahwa Santana agak terdesak dan tiba-tiba Santana meloncat mundur kemudian melilitkan ikat pinggangnya.

Dengan gigi gemeretak dan mata merah menyala, Santana merenggangkan kakinya. Tangan kanannya terjulur kesamping dan jari-jarinya lurus rapat sedang tangan kirinya menyilang mendatar di dadanya dengan jari tergenggam. Kemudian tangan kanannya terayun kedepan dan menyilang didepan dada agak kedepan dengan telapak tangan terbuka tegak keatas.

Arya Kayana terkejut luar biasa. “kakang..apa yang kau lakukan”

“Inilah saatnya…akan kita lihat siapa yang paling kuat diantara kita…bersiaplah kayana…”

Kayana Nampak ragu. Dia memang telah berlatih keras selama beberapa tahun terakhir memantabkan dan menemukan inti dari ilmu andalan perguruan Sumber Banyu. Dan ia telah mendapatkannya. Namun apakah dia harus membenturkan ilmunya itu dengan ilmu yang sama milik kakak seperguruannya. Sedang dia sendiri tidak tahu sampai mana tingkat intisari yang telah dikuasai oleh kakak seperguruannya tersebut.

Sangat berbahaya bila mereka harus membenturkan ilmu yang bersumber dari mata air yang sama itu. Apa kata gurunya nanti. Begitulah yang berkecamuk di dalam hati Arya kayana.

Namun tiba-tiba terdengar Santana mendengus keras. “Bersiaplah kayana…!!!”. Dan kaki kanan Santanapun bergerak kedapan. Tangan kirinya bergerak ke bawah dan tangan kananya terayun keatas. Tangan yang terayun ke atas dan kebawah itu tiba-tiba mulai tergetar dan udara di sekitar mereka semakin dingin. Udara yang harusnya semakin panas akibat mentari yang semakin naik menjadi tidak terasa di halaman itu.

Namun Kayana masih berusaha mengingatkan kakaknya.” Kakang aku mohon hentingan perkelahian tak berguna ini..”. Namun sepertinya Santana seperti sudah tidak mempunyai telinga lagi. Dan ketika kaki Santana merendah..

“Santana, Kidang Santana hentikan… jangan gunakan ilmu Cakra Banyu itu’..

“Santana terkejut..”. Itu adalah suara gurunya, kyai Alas jabungan. Namun terlambat. Ilmu Cakra banyu telah pada tahap akhir penyaluran energinya. Maka tiba-tiba tubuh Santana melayang kedepan dengan kebua tangan terkembang ke depan. Tubuh itu berputar sehingga menyerupai pusaran air yang dahsyat melayang mendekati kayana.

Kayana yang terkejut dengan serangan itu kemudian melenting tinggi untuk menghindar dan kemudian berdiri tegak. Hal yang luar biasa kemudian terjadi. Bagai belut raksasa maka tiba-tiba tubuh Santana yang meluncur sambil berputar itu berganti haluan. Dengan sentuhan tangan di tanah yang menimbulkan lubang menganga tubuh Santana meluncur keatas masih dalam kondisi berputar dan kemudian berbelok meluncur turun dengan deras menuju tempat dimana Kayana berdiri.

Namun waktu yang sekejap itu telah bisa digunakan oleh kayana untuk bersiap. Maka kemudian tiba-tiba tubuh Kayana juga telah meluncur berputar menghadang tubuh Santana. Maka terlihat dua buah tubuh yang berputar bagai pusaran air itu bergerak dan berbenturan dengan dahsyat. Daun-daun berguguran dan di tanah terbentuk sebuah kawah yang cukup besar.

Dan daripada itu tubuh kayana terpelanting ke belakang beberapa tonggak. Namun kemudian dengan tertatih ia bisa berdiri kembali. Sedangkan Santana juga terdorong surut beberapa tombak. Dia bergulingan di tanah dan kemudian terlihat darah meleleh dari sela bibirnya..

“Santana..” teriak Kiai Alas Jabungan.

Advertisements

One thought on “Bayangan Semar di Kaki Gunung Lawu – Dendam Itu Tuli (5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s