Bayangan Semar di Kaki Gunung Lawu – Dendam Itu Tuli (4)

Terbayang kembali dalam benak Candana Wuni ketika Santana akan pergi meninggalkan padepokan. “Wuni..kau memilih kayana atau aku…”. Wuni hanya terdiam. “Baiklah kau telah menghancurkan hatiku… kau telah mempermainkanku..Kau..”.

Kalimat Santana terpotong ketika Candana Wuni menjerit sambil menangis,” Tidak kakang.. aku juga sayang dengan kakang tapi hanya sebatas dengan saudara tua.. Aku..”.

“Cukup…!”. Bentak Santana.

“Sekarang aku akan pergi dari padepokan ini. Guru tidak sayang lagi dengan aku. Kau juga… Maka aku akan pergi dan kau harus ikut..”

“Tidak kakang.. jangan… jernihkan hatimu”

“Cukup..cukup..!!!”. Santana yang sudah terbakar amarah dan cemburu itupun bagai tertutup hatinya. Dia tidak bisa lagi membedakan mana yang benar mana yang salah. Sebenarnya Santana adalah seorang yang sangat baik hati walaupun kadang agak keras. Seorang yang penyayang dan sangat pekerja keras. Bersama Arya Kayana dan Gurunya, ialah yang pertama kali membangun padepokan Sumber Banyu. Sebuah padepokan asri di dekat mata air yang jernih. Sungguh padepokan yang damai.

Namun entah mengapa sejak Santana sering keluar padepokan. Perangainya sedikit berubah. Agaknya Santana mendapat teman yang salah di luar lingkungan padepokan Sumber banyu. Entahlah siapa yang telah mempengaruhi pikiran Santana sehingga bisa berubah.

Sebenarnya Santana sering keluar padepokan karena hanya ingin menghilangkan rasa cemburunya atas hubungan antara Candana Wuni dengan Arya Kayana, adik seperguruannya. Hal itupun sudah diketahui oleh Kiai Alas jabungan. Namun ternyata kondisi jiwa Santana berhasil dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk memusuhi padepokan Sumber banyu.

“Ayo Wuni..ikut aku..”

“Tidak kakang..”

“Harus”

Kidang Santana sudah maju mendekati Candana Wuni dengan tatapan yang penuh amarah. Tatapan yang seharusnya bukan tatapan milik Kidang Santana. Candana Wuni sadar bahwa dia tidak akan mampu lagi mencegah keinginan Santana yang sedang dibakar amarah. Sehingga iapun harus mempertahankan diri. Candana Wuni sadar bahwa dia tidak akan mungkin melawan Kidang Santana.

Namun Candana Wuni juga adalah cucu dari Kiai Alas jabungan. Seorang yang juga sakti pilih tanding. Candana Wuni juga telah belajar ilmu kanuragan dengan kakeknya itu. Maka Candana Wuni segera mengambil selendang yang melingkar di pinggangnya. Sebuah senjata ciri padepokan Sumber banyu yang telah disesuaikan dengan dirinya. Sebuah selendang yang biasanya untuk menari, tapi di tangan Candana Wuni bisa berubah menjadi senjata yang menakutkan.

“jangan melawan Wuni.. “

“Tidak kakang..walaupun aku sangat menyayangi dan menghormati kakang…namun aku juga akan mempertahankan harga diriku…”

Kidang Santana terdiam. Nampak dahinya berkerut kemudian ia menengadahkan kepalnya keatas. Dia mendesah. Santana seperti sedang berpikir keras. Namun kemudian tiba-tiba dia meloncat dengan sangat cepat akan menggapai tangan Candana Wuni yang memegang selendang.

Candana Wuni terkejut bukan kepalang. Dia tidak menduga bahwa Santana akan bergerak secepat itu. Cendana Wuni bergeser surut namun terlambat. Sehingga mau tidak mau dia harus melawan tidak lagi menghindar. Secepat hembusan angin, Tangan kekar Santana yang bergerak bagai kidang itu tinggal sejengkal dari tangan Candana Wuni.

Namun tiba-tiba Santana terkejut. Tangannya yang sudah siap meraih tangan Candana Wuni tiba-tiba tergetar. Dia kemudian meloncat surut. Dilihatnya Arya kayana sudah berdiri tegak dihadapannya.

“Kau..”, Kidang Santana berteriak lantang.

“kakang.. dinginkan hati dan kepala. Kita bicarakan baik-baik…”. Bujuk kayana.

“Tidak perlu..minggir kau Kayana..aku yang lebih berhak terhadap Candana Wuni”.

“Kakang.. sadarlah. Wuni adalah adik yang kita sayangi bersama..Candana ada..”. Perkataan Kayana terpotong dengan teriakan Santana. Dia semakin marah.

“Sudahlah Kayana…sekarang kita tentukan siapa yang lebih berhak atas Candana Wuni.. kita tentukan siapa yang lebih hebat..”

“Tidak kakang aku tidak mau… kita adalah saudara seperguruan. Kita adalah saudara.. tidak selayaknya kita berkelahi seperti itu..Kita tunggu guru. Sebentar lagi beliau akan selesai dalam semedinya di Sendang Ijo.

“Aku tidak perduli dengan guru. Aku akan membawa Wuni. Jika kau menghalangi maka jangan salahkan aku..”

“kakang…apakah yang menggelapkan mata hatimu..”

“Cukup..!!!”. Tiba-tiba saja Santana telah meloncat dengan kecepatan tinggi menyerang Kayana.

Arya kayana dan Candana Wuni terkejut bukan main. Sedemikian amarah telah menguasi Kidang Santana.

“kakang jangan…!!”, Candana Wuni berteriak. Namun Santana tidak lagi mendengarkannya.

Kayana yang tidak siap terkejut. Maka dengan reflek dia berguling ke samping dan segera melenting untuk kembali tegak berdiri. Santana tidak menunggu lama, maka diapun segera menyerang Kayana dengan tataran ilmu yang cukup tinggi. Ternyata Santana tidak main-main. Sehingga kayanapun akhirnya mau tak mau harus melayani Santana.

Maka perkelahian dahsyatpun terjadilah. Dua orang saudara seperguruan bertarung dengan ilmu dari sumber yang sama. Mereka berdua yang telah menguasi ilmu padepokan Sumber banyu pada tataran paling tinggi itupun bertarung dengan dahsyat. Tangan tangan mereka bergerak bagai gelombang air yang bergerak berdebur berusaha memecah karang.

Candana Wuni hanya diam mematung. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Yang dilihatnya kemudian adalah dua buah pusaran air yang saling beradu. Pasir pasir berhamburan beterbangan. Udara di sekitar mereka menjadi dingin akibat tenaga dalam yang terpancar dari kedua orang yang bertempur tersebut. Candana Wuni melangkah menjauh dan dia masih tidak tahu apa yang harus dilakukan.

(Bersambung)

Advertisements

One thought on “Bayangan Semar di Kaki Gunung Lawu – Dendam Itu Tuli (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s