Bayangan Semar di Kaki Gunung Lawu – Dendam Itu Tuli (2)

Angin bertiup semilir. Sungguh sejuk. Menggerakkan dedaunan yang seakan ikut menikmati segarnya udara di pagi itu. Cahaya Matahari yang kemerah-merahan mulai menerobos diantara pohon-pohon yang tumbuh lebat di sekitar padepokan itu. Udara menjadi hangat.

Namun damai dan hangatnya suasana pagi itu tidak mampu membuat sejuk hati Arya Kayana. Hatinya masih panas karena kemarahan yang bergelora di dadanya. Pemuda tegap itu berdiri tegak memandang isi padepokannya yang sebagian telah musnah dilahap api. Dalam siraman cahaya matahari pagi, mulai terlihat bangunan mana saja yang musnah terbakar dan menyisakan arang hitam. Asap masih terlihat mengepul tipis, bahkan di beberapa bagian, bara merah masih terlihat. Sungguh, keadaan yang memang membuat hati sedih sekaligus panas apalagi bagi seorang Arya Kayana yang masih sangat muda.

Dibawah curahan cahaya matahari yang mulai meninggi mulai terlihat bahwa padepokan itu sebenarnya bukanlah padepokan yang besar tapi juga tidak kecil. Terdapat sebuah rumah induk yang menghadap ke utara. Di depannya terdapat sebuah lapangan yang cukup luas walaupun tidak sebesar alun-alun sebuah kotaraja atau kadipaten. Di sisi barat terdapat sebuah mesjid yang cukup sederhana namun cukup luas untuk menampung para cantrik untuk sholat berjamaah. Sedangkan di sisi utara terdapat sebuah sanggar yang cukup luas dan gedhogan yang telah habis terbakar semalam. Di depan sanggar inilah Arya Kayana berdiri tegak mematung. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Marah, sedih, kecewa semua bercampur menjadi satu.

Padepokan itu dikelilingi oleh pagar kayu yang tidak terlalu tinggi. Mungkin hanya setinggi 2 depa. Pagar ini dimaksudkan untuk melindungi padepokan dari serangan hewan buas. Disisi timur adalah jalan masuk ke padepokan. Sedangkan rumah cantrik berada di belakang pendopo dan mesjid. Di belakang pagar disisi selatan dan barat terdapat hamparan sawah, ladang, kebun yang digunakan oleh penghuni padepokan untuk menopang hidup. Sebuah padepokan kecil yang tertata cukup rapi. Di tambah dengan latar belakang puncak sebuah Gunung, maka padepokan itu menjadi padepokan yang cukup indah.

Arya Kayana kaget ketika tiba-tiba gurunya berdiri di dekatnya.

“Subhanallah..Maha Besar Allah yang menciptakan alam ini begitu indah. Kau lihat Gunung Lawu itu, Ngger !”, desis orang tua di samping Arya Kayana.

“Iya Guru..”, jawab Arya Kayana.

“Gunung Lawu itu begitu tinggi, begitu besar. Sungguh gunung yang perkasa. Indah, kekar, berwibawa..”

“Benar Guru…Gunung itu seperti menyimpan berbagai misteri. Kalau kita memandangnya dengan seksama, kita seperti terhipnotis akan keperkasaannya”, Arya kayana menyela perkataan gurunya..

Orang tua itu tersenyum.

“Gunung itu dulunya terkenalbernama Wukir Mahendera…”.

“Wukir Mahendra….”, Arya Kayana kembali menyela..

“Artinya apa Guru?”, lanjut Arya Kayana bertanya.

“Iya Wukir Ma..”, perkataan orang tua yang dipanggil guru oleh Arya Kayana itu terpotong. Arya Kayana dan gurunya menoleh ke arah teriakan yang cukup mengejutkan mereka. Teriakan itu berasal dari arah gedhokan yang habis terbakar.

“Diamput, Jiangkrik, Kutu Kupret, Kurang Asem, …..”.

Seorang laki laki muda dan mungkin seumuran Arya Kayana, bertubuh tambun, pendek, dan beramut keriting terlihat berjalan meloncat loncat dengan satu kaki dari arah gedhogan. Kaki yang satunya lagi diangkat sambil dipegangi oleh kedua tangannya. Mulutnya masih komat kamit mengumpat.

“Jaran kepang, Demit Ijo, Demit Abang, Jiangkriikkk, Jiangkriiikk….”. Sumpah serapah terus mengalir dari mulutnya.

Arya Kayana dan gurunya hanya tersenyum melihat tingkah polah pemuda itu.

Melihat Arya kayana dan gurunya ada di dekatnya, tiba tiba pemuda itu berhenti melompat lompat dan diam seribu bahasa. Dengan muka yang dilipat lipat merah padam entah karena takut atau malu, pemuda itu bersiap balik badan.

“Hei Gandhon… sini kamu”, panggil Arya Kayana sambil melambaikan tangannya.

Sambil dengan wajah masih dilipat lipat, pemuda yang dipanggil Gendhon itu diam ditempatnya. Dia berusaha menunduk tapi tidak bisa karena tertahan perut buncit yang lingkarnya sebesar lingkar batang pohon jati usia 20 tahun. Akhirnya dengan perlahan Gendhon melangkah ke arah Arya Kayana dan gurunya.

“Nggih Kiai, Raden…”, kata Si Gendhon lirih sambil masih melipat mukanya.

“Maafkan saya Kiai..”, lanjut si Gendhon tambah lirih.

“Lho, maaf buat apa Ndhon, lha kamu kan tidak salah. Pakai minta maaf segala”, sahut Arya Kayana.

“ Ya..ya..ya pokoknya maaf Raden”, jawab Gendhon terbata bata.

“Lha iya maaf apa wong kowe cuma tak panggil kesini aja Ndhon”, lanjut Arya Kayana mencoba menggoda Gendhon, pemuda berbadan tambun itu.

‘Diampuutttt !!!”, sumpah serapah Gendhon dalam hati. Gendhon melirik ke arah Arya Kayana sambil tangan kanannya mengepal dan diarahkan ke Arya Kayana.

“Hahahahahahahah…apa Ndhon. Kowe mau mukul aku hahahahah”, Arya Kayana tertawa puas. Dia tahu bahwa Gendhon lagi salah tingkah di depan gurunya.

“Kayana..”, berkata gurunya tiba tiba sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir.

“Kamu kok sukanya menggoda Gendhon. Sudah…”, lanjut orang tua disamping Arya Kayana.

“Gendhon…”.

“Iya Kiai…maaf saya khilaf”, jawab Gendhon.

“Khilaf kok terusss..hukum aja guru dicukur gundul…hahahahah”, sela Arya Kayana.

“Hush.. diam kamu Kayana”.

“Iya Guru”, jawab Arya Kayana sambil masih tersenyum. Dilihatnya Gendhon makin salah tingkah. Tangan kanan Gendhon masih mengepal dan seperti akan diarahkan kearahnya.

Memang dipadepokan itu, salah satu hukuman bagi pelanggaran peraturan ringan yang sudah sampai tahap keterlaluan adalah dicukur gundhul. Peraturan yang terlihat biasa tapi mengerikan bagi Gendhon. Bisa dibayangkan bagaimana bentuknya jika rambutnya dicukur habis. Membayangkan saja sudah cukup mengerikan bagi Gendhon.

“Maafkan saya Kiai…maaf…maaf.. maaf”, iba Gendhon.

“Kamu khan sudah saya kasih tahu to Dhon, Gendhon. Mengumpat itu tidak baik. Dilarang oleh Agama kita.”, kata guru Arya Kayana.

“Iya Kiai, saya lupa”, jawab Gendhon lirih.

“Tapi sakit banget Kiai”, kata Gendhon.

“Dhon, Gendhon…Kalau kena musibah itu bukan mengumpat. Tapi bilang Innalillahi wa Inna Ilaihi Roojiun.. Atau Astaqfirullah…”, timpal Arya Kayana.

“Iya Raden..khilaf saya…saya akan berusaha lagi…”, jawab Gendhon.

‘Kutu kupret, Awas kau Arya Kayana. Kalau tidak ada Kiai, udah tak jadikan bola kamu’, umpat Gendhon dalam hati

“Baiklah…sana kamu bantu lagi bersih bersih padepokan??, perintah Arya Kayana kepada Gendhon.

“Iya Raden..Mari Kiai”, pamit Gendon dengan suara lirih.

Arya Kayana dan gurunya mengangguk pelan. Belum lagi mereka membalikkan badan terdengar suara Gendhon.

“Juangkriiikkkk, Asem Kecut, Sontoloyo…”

“Gendhooonnnn….”, teriak Arya Kayana.

“Sudahlah Kayana…biarkan saja..memang perlu proses”, berkata guru Arya Kayana dengan lirih.

“Ayo kita bantu para cantrik membersihkan padepokan ini”.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s