Archive for the 1. Magetan City Category

Alun-alun Magetan Jawa Timur

Posted in 1. Magetan City with tags , on 30 November 2010 by anginlawu

Larung Sesaji Sarangan Magetan….

Posted in 1. Magetan City with tags , on 12 July 2010 by anginlawu

Minggu, 11 Juli 2010. Telaga Sarangan Kabupatan Magetan disesaki oleh ribuan wisatawan, baik wisatawan dalam kota maupun wisatawan luar kota. Tak sedikit pula beberapa wisatawan asing terlihat di sekitar telaga. Yah hari itu Pemerintah Kabupaten Magetan sedang mengadakan apa yang disebut Larung Sesaji. Sebuah prosesi yang dipercaya oleh sebagian masyarakat khususnya masyarakat sekitar telaga Sarangan akan memberikan kebaikan bagi warga Magetan. Prosesi ritual sakral yang digelar rutin tahunan ini, diawali dengan mengarak tumpeng Gono Bahu dari Balai Desa Sarangan, kemudian mengelilingi telaga, hingga akhirnya tumpeng itu diceburkan di tengah telaga Sarangan.

Ritual ini memang kental dengan sebuah adat istiadat kepercayaan sebagian masyarakat akan kaitan rejeki dan penghidupan dengan apa yang mereka sebut penunggu Telaga Sarangan. Sesosok makhluk imaginer yang dimata sebagian masyarakat tampak nyata. Sesosok makhluk penunggu dan pemelihara Telaga yang bisa memberikan keberkahan pada masyarakat sekitar dan bisa menjadi penghubung antara mereka dengan Sang Maha Pencipta. Menurut Mbah Supar, sesepuh Sarangan, acara tersebut merupakan satu adat yang sudah dilakukan sejak 1508 sudah rutin dilaksanakan setiap tahun.”Larungan ini diyakini dapat memberi berkah kepada masyarakat, kalau tidak dilaksanakan dipercaya penghasilan bumi warga Magetan bisa menurun,” ujar Mbah Supar (magetankita.com). Sebuah ritual yang berbau klenik dan kental dengan nuansa animisme. Atau mungkin lebih dikenal dengan istilah Kejawen..sebuah aliran yang membaurkan antara Islam dengan Kebudayaan Jawa…

Ketika sudah sampai menyangkut adat dan animisme dinamisme  maka akan timbul sebuah pertentangan dan perdebatan lama tentang sebuah tema besar SYIRIK…Perdebatan panjang antara pembela adat istiadat dan pembela kemurnian syariah Islam…Posting ini tidaklah bermaksud mendebatkan keduanya karena memang bukan tempatnya…Yang pasti ternyata..dengan masih begitu antusiasnya sebagian masyarakat mengikuti acara tersebut maka memang fenomena kejawen masih begitu melekat…Dan ketika fenomena itu bertemu dengan pemikiran bisnis…kloplah sudah..

“Acara ini memang rutin kami lakukan sebagai kalender tahunan,” ujar Bupati Magetan yang ditemui usai acara larungan. ”Selain memang ini merupakan budaya, larungan ini bertujuan untuk menarik wisatawan,” kata dia (magetankita.com).

Dan ternyata perjuangan panjang pemurnian Islam masihlah sangat panjang dan berliku…dan yang perlu diingat adalah Terlalu Keras bukanlah Solusi tepat…

Kerajinan Kulit Made In Sawo

Posted in 1. Magetan City with tags , , on 4 February 2010 by anginlawu

Courtesy : www.magetankita.com

Berwisata ke Magetan kurang afdol jika belum belanja di kawasan pasar Sawo. Sesuai namanya, tempat belanja ini berada di Jalan Sawo, sekitar dua kilometer arah barat Alun-alun.

Di lokasi yang berada di jalur Sarangan-Magetan itu, bisa dijumpai beragam outlet atau kios yang menjual hasil kerajinan kulit dan oleh-oleh khas. Di sepanjang jalan, wisatawan bisa memborong sepatu, tas, ikat pinggang dan beragam kerajinan kulit lain.

Termasuk jajanan khas, seperti renginang, emping mlinjo, kerupuk rambak, lempeng puli, jenang, carangmas, enting-enting (gula kacang), dan kurmelo (kurma dari jeruk pamelo).

Soal harga, kerajinan kulit di Magetan sangat terjangkau. Mulai dari yang harga Rp 25 ribu hingga Rp 750 ribu seperti jaket kulit. Jajanan khas pun juga amat murah bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Yakni, antara Rp 5 ribu hingga Rp 25 ribu. Semua tinggal melihat isi kantong.

Menurut kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Sukowinardi, sentra kerajinan kulit Magetan berada di Kelurahan Magetan, Selosari, Candirejo, Kepolorejo (semua di Kecamatan Magetan Kota). Selain itu, ada di Balegondo dan Mojopurno Kecamatan Ngariboyo.

Potensi kerajinan kulit di Magetan tersebut didukung oleh industri kecil penyamakan kulit dengan proses nabati maupun kimiawi. Lokasi yang dinamai Lingkungan Industri Kulit (LIK) ini berada di Kelurahan Ringin Agung, Kecamatan Magetan Kota dan di Mojopurno Kecamatan Ngariboyo serta beberapa desa di sekitarnya.

Lawu – Paku Bumi ing Tlatah Mageti

Posted in 1. Magetan City with tags , , on 29 January 2010 by anginlawu

Gunung Lawu adalah salah satu gunung yang berada di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Timur, gunung yang indah ini terletak di Kecamatan Ploasan, Kabupaten Magetan. Gunung dengan ketinggian 3.265 m ini berstatus gunung api “istirahat” dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya egetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous.

Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.

LEGENDA LAWU

Inilah legenda Lawu yang telah terkenal malang-melintang di dunia perinternetan. Entah benar, enath tidak… ga ngerti pokoknya yang beredar adalah seperti ini :

Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Raden Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.

Raden Fatah setelah dewasa agama islam berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).

Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah, “Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.

Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Sardjito, dokter Hebat soko Magetan

Posted in 1. Magetan City with tags , on 22 January 2010 by anginlawu

Dokter Sardjito adalah dokter yang menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Ia lulus Sekolah Dasar Purwodadi diDesa Purwodadi, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan pada tahun 1922. Pada masa perang kemerdekaan, beliau ikut serta dalam proses pemindahan Institut Pasteur di Bandung ke Klaten. Selanjutnya beliau menjadi Presiden Universiteit (sekarang disebut Rektor) Universitas Gadjah Mada yang pertama dari awal berdirinya UGM tahun 1949 sampai 1961.

Nama beliau diabadikan sebagai nama rumah sakit daerah di Yogjakarta yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito.

Semoga lahir dokter-dokter lain dari Magetan yang memberi sumbangsih pada bangsa ini…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.